16. Teori, eh Praktek Transportasi

Sistem transportasi di semua negara maju hampir sama. Mereka lebih mengandalkan transportasi publik dari pada mobil pribadi. Jadi tidak ada kemacetan akut seperti di Jakarta.

Sebenarnya teori transportasi sudah jelas benar. Ciptakan sistem transportasi publik yang nyaman (dan murah kalau bisa), maka orang akan sukarela dan senang hati pindah ke kendaraan umum. Pemakaian kendaraan pribadi merosot jauh dan otomatis kemacetan hilang. Sebuah teori yangsangat sederhana, tapi kenapa susah banget diterapkan di Jakarta.

Soal kenyamanan dan kemudahan transportasi publik di kota-kota besar dunia relatif sama. Bedanya tinggal pada tarif yang sayangnya masih mahal jika kita konversi ke rupiah. Di Budapest 1,2 euro (19.000 rupiah) sekali jalan. Di Wina 2,2 euro (36.000 rupiah) sekali jalan. Begitu juga di Amsterdam, sama dengan Wina 2,2 euro sekali jalan. Kalau di Singapura harga tiket tergantung jarak tempuh.

Bagi yg berniat backpackeran, mau tidak mau harus familiar dg sistem pembelian tiket lewat mesin tiket. Harus familiar juga menentukan stasiun tujuan dan jalurnya. Termasuk bagaimana berpindah jalur di stasiun inter koneksi.
Karena tiket di Eropa adalah tiket sekali jalan tanpa melihat jarak, kita bisa turun di stasiun mana saja yang kita inginkan. Kita bisa berpindah-pindah jalur semaunya selama tidak keluar dari stasiun. Jadi asik dong bisa keliling kota sepuasnya dengan hanya satu tiket di tangan. Iya, emang puas, tapi kita gak bisa lihat apa-apa karena walaupun sudah mengelilingi seluruh kota, tapi di bawah tanah terus. Kagak ada pemandangan apa-apa.

Di Singapura kita tidak bisa keluar stasiun sesukanya karena stasiun keluar harus sesuai dengan stasiun yang kita pilih saat beli tiket. Masalahnya untuk keluar stasiun di Singapura kita harus validasi tiket lagi di mesin agar palang pintu keluar bisa terbuka. Sedangkan di Budapest dan Wina tidak ada validasi tiket saat keluar. Makanya kita bisa keluar di stasiun mana saja.

Saya menyarankan untuk yang belum pernah back packeran agar melakukan pemanasan dulu di Singapura, terutama untuk memfamiliarkan diri dulu dengan sistem transportasi. Ada tiga alasan kenapa saya menyarankan Singapura. Pertama karena dekat dari Indonesia dan tiket ke sana malah lebih murah daripada tiket Jakarta-Bali misalnya, apalagi Jakarta-Makasar. Kedua karena budaya dan masyarakatnya masih agak dekat-dekat dengan kita sehingga secara psikologis kita masih merasa nyaman. Ketiga karena sistem transportasinya itu. Jalur-jalurnya lebih sederhana (apalagi dibandingkan dengan jalur Metro di Paris yang lebih ruwet). Kita mudah memahami, terutama keahlian bei tiket di mesin dan menentukan pindah jalur. Semuanya dapat kita lakukan hanya dengan melihat peta MRT karena di sana ada nomor jalur dan nomor stasiun. Ada juga signage penunjuk arah mencari jalur di stasiun interkoneksi. Ada peta jalur juga di atas pintu MRT. Ada signage stasiun berikutnya di dalam MRT. Ada pengumuman next station dalam bahasa Inggris dan Melayu. Semua signage dan petunjuk dilengkapi empat bahasa yakni Inggris, Melayu, China dan India. Saya jamin bahwa seseorang yang sudah menguasai sistem MRT singapura maka dia akan menguasai juga sistem MRT kota-kota manapun di seluruh dunia.

Artikel Terkait