3. Mengurus Visa

3. Tahap perencanaan backpaker adalah menetapkan negara tujuan. Setelah itu searching jadual berangkat dan pulang yang memberikan kombinasi harga tiket termurah. Ini semua sdh makan waktu satu minggu sendiri.

Proses selanjutnya yg membuat perut saya mules adalah mengurus visa. Sudah terbayang persyaratan yg diminta, dokumen ini dan itu dan bla bla lainnya. Tapi mau tidak mau ini harus dikerjakan juga. Lalu saya mulai searching cara mengurus visa jepang. Ternyata kedubes jepang mengoutsourcingkan pengurusan visa ini kepada perusahaan swasta. Kita tidak datang ke kedubes jepang di jalan thamrin, tapi ke kantor perusahaam swasta ini di lotte shopping mall di jalan satrio.

Tata cara pengurusan ada di web sitenya. Cukup informatif, tapi masih belum terstruktur rapih dan masih ada peluang salah bagi pengguna pemula. Pertama saya print formulir isian pakai kertas A4. Setelah diprint semua utk 6 orang, ternyata ada bagian yg terpotong. Karena itu saya ulang print lagi dg kertas F4 dan benar saja, tdk ada bagian yg terpotong.

Tapi saat searching lebih lanjut, tertulis aturan bahwa semua dokumen harus dalam ukuran A4. Jika tidak akan ditolak. Lha, bagaimana ini. Dia yang buat aturan dan dia yg buat format. Aturannya kertas A4, formatnya kertas F4. Bagaimana pula ini.
Lalu sayapun menelpon kantor pengurusan visa tersebut dan menceritakan masalahnya. Kata dia bisa ambil saja formnya di kantor. Walah, ini mah buat kesal lagi. Di zaman sdh main down load begini, kok masih harus datang secara fisik hanya utk mengambil formulir isian. Dg jengkel saya menutup telepon dan menutup juga aplikasi visa di lap top.
Besoknya saya buka lagi aplikasi visa. Masih di web yg sama, sekarang formulirnya bisa dicetak di kertas A4. Kok bisa? Sepertinya karena saya masuk dari menu yg berbeda.

Formulir disediakan dalam format pdf. Berarti harus diprint dan diisi tulis tangan. Padahal saya harus mengisi formulir utk 6 orang. Kan capek juga menulis satu per satu sampai 6 orang. Padahal formulir itenirary selama di jepang disediakan dalam format word. Jadi enak krn kita bisa langsung mengisi dg mengetik di laptop. Kenapa utk formulir isian tdk di word juga, malah di pdf.

Butuh lagi beberapa hari utk mengisi formulir yg menjengkelkan itu. Minta no paspor, no ktp, no flight, tempat menginap dan bla bla lain yg membuat perut mules mengisinya. Tapi alhamdulillah akhirnya selesai juga.

Setelah selesai dan semua persyaratan yg membuat perut mules itu lengkap semuanya, sayapun memboyong semua berkas itu ke kantor visa. Saya sdh cek satu demi satu semua syarat agar tdk usah bolak balik. Tapi ternyata ada saja yg membuat saya harus balik. Nadiyya harus tanda tangan sendiri, tidak boleh diwakilkan walau dia di luar kota. Hasya harus melampirkan ktp, tdk cukup kartu pelajar saja krn usia sdh 17 thn. Padahal di web site sendiri yg minta kartu pelajar jika masih sekolah.
Berarti saya harus kirim soft copy formulir ke nadiyya utk dia print dan tandatangan, lalu dikirim balik ke saya. Saat mengirim soft copy ke nadiyya itulah saya dapat pengalaman baru lagi. Ternyata file pdf yg disediakan web site bisa diisi/diketik di komputer. Walah, padahal saya sdh capek2 tulis tangan untuk 6 orang. Sungguh saya baru tahu bahwa ternyata file pdf bisa diisi/diketik langsung.

 

 

Artikel Terkait