2. Tap Tempat

2. Tap Tempat

Sebenarnya pelaksanaan itikaf itu mudah dan sederhana sekali. Cukup berdiam di masjid maka kita sudah melakukan itikaf. Walau itikaf bisa dilakukan kapan saja namun biasanya itikaf selalu dikaitkan dengan bulan Ramadhan.

Itikaf Ramadhan di zaman now bukan hanya mudah dan sederhana tapi malah sudah sangat nyaman. Di mana-mana masjid menyelenggarakan itikaf dengan menyediakan sahur dan makanan berbuka. Kita tinggal beribadah saja tanpa perlu memikirkan lagi masalah makanan.

Itikaf di Masjidil Haram tentu juga sama mudah dan sederhananya. Tapi masalahnya jadi beda karena yang itikaf jutaan orang. Inilah yang membuat itikaf di sini jadi sangat sangat sangat berat.

Saya pertama kali melakukan itikaf Ramadhan adalah secara umroh backpacker 5 tahun yang lalu. Saat itulah saya merasakan betapa beratnya itikaf di sini. Dan sekarang hal yang sama berulang lagi.

Saat kita datang ke masjid maka semua tempat sudah ditap oleh orang. Tidak ada lagi tempat untuk sholat bahkan sekedar berdiri. Benar-benar padat.

Tapi bukankah Masjidil Haram itu luas sekali. Jika tidak bisa di satu tempat maka bisa pindah ke tempat lain. Tapi kenyataannya tidak begitu. Pada waktu sholat maka tidak ada sepotong lantai masjidpun yang tidak ada orangnya.

Kita bisa saja datang 2-3 jam sebelum waktu sholat. Tapi seperti yang sudah diceritakan di atas maka tetap saja tidak akan dapat tempat karena semua sudah ditap orang. Hanya keberuntungan saja jika masih bisa menyempil atau sholat di lorong. Itupun akan langsung diusir seusai sholat.

Kedatangan 1-2 jam sebelum waktu sholat maka jatahnya adalah pelataran masjid. Jika datang 1 jam sebelumnya maka bahkan pelataranpun tidak akan dapat lagi. Bayangkan, pelataran yang seluas itupun tidak bisa kita masuki karena area sholatnya sudah dibarikade. Hanya sisa lorong-lorong untuk berjalan saja.

Kita bisa habis waktu 1-2 jam untuk mencari lokasi yang bisa untuk sholat karena begitu sesaknya orang. Ini terutama untuk sholat Maghrib, Isya, Tarawih dan Tahajud. Tapi bukan berarti Subuh, Zuhur dan Ashar lebih ringan namun melainkan yang disebut pertama itu yang amat amat amat berat.

Begitu sampai di dekat pintu masuk ternyata sudah dijaga asykar dan harus cari lagi jalan lain dan pintu lain. Demikian seterusnya sampai bertemu pintu yang masih dibuka atau habis berkeliling tanpa satu pintupun yang bisa dimasuki.

Lebih menyiksa lagi selama 1-2 jam pencarian itu kita tidak bisa berhenti sama sekali. Jangankan duduk sejenak, baru berhenti berjalan dan berdiri saja maka asykar sudah langsung mengusir dengan teriakan yala, yala, yala. Artinya dia menyuruh kita terus berjalan.

Asykarnya tidak salah dan memang dia harus menjaga agar orang berjalan terus. Jika ada yang berdiri apalagi duduk maka jalan terhambat dan terjadi bottle neck. Padahal jamaah terus berdatangan. Jadi memang harus berjalan terus agar tidak ada penumpukan. Padahal dengan begitu saja masih terjadi penumpukan dan desak-desakan apalagi jika tidak ada pengaturan.

Saya sudah mengalami ini. Kaki sudah lelah sekali dan ingin istirahat. Tapi tidak bisa duduk karena di mana-mana ada orang. Jikapun ada kebetulan celah di pinggir yg bisa berhenti namun asykar akan langsung mengusir. Dalam situasi ini mungkin hanya di toilet ada sedikit ruang untuk duduk melantai. Tapi itupun sesak orang yang lalu lalang dan akan diusir juga jika ada petugas.

Bersambung

Artikel Terkait