4. Sebuah Dilema
Tap tempat di Masjidil Haram dilakukan dengan meletakkan sajadah di atas karpet masjid. Itu adalah penanda bahwa tempat itu sudah ada yang punya. Orang lain tidak akan menduduki sebuah tempat yang sudah ada sajadahnya.
Cara lain mempertahankan tempat selain dengan meninggalkan sajadah adalah itikaf secara berkelompok 5 orang atau lebih. Nanti diatur sedemikian rupa agar selalu ada yang berjaga di tempat saat yang lain ada keperluan keluar.
Tapi penjagaan tidak menjamin bahwa orang lain tidak bisa masuk terutama saat sholat rowatib. Kita berpikir bahwa situasi sudah aman saat kita duduk tenang menunggu adzan dan qomat karena sebelah menyebelah kiri dan kanan kita sudah ada teman.
Tapi jangan senang dulu. Jika posisi duduk kita dengan orang sebelah ada celah 10cm atau bahkan 5cm saja maka jangan kaget jika tiba-tiba saja sudah ada orang yang ikut menyelip dan memakai celah tersebut. Apalagi jika sudah berdiri dan sedang qomat, tiba-tiba saja dia sudah berdiri berimpitan dengan kita dan teman di sebelah kita.
Mendapatkan tap tempat di Masjidil Haram adalah sebuah kesuksesan besar. Boleh dikata 90% dari ritual itikaf sudah di tangan. Betapa tidak, kita tidak perlu lagi berputar-putar berjam-jam mencari tempat sholat. Tinggal datang ke tap tempat kita saja dan ready to sholat.
Tapi sayangnya tap tempat bukanlah sebuah solusi serba guna yang dapat mengatasi semua masalah. Walaupun kita berhasil tap tempat namun tidak menjamin kita bisa sholat di sana setiap saat.
Sekarang masalahnya bukan soal tempat tapi soal akses. Kita memang sudah tap tempat tapi justru akses ke sana yang tidak kita dapatkan. Ilustrasinya seperti di bawah ini.
Katakanlah kita datang jam 14 sebelum Ashar. Karena sudah tap tempat maka dengan mudah kita langsung ke posisi tap kita. Setelah sholat Ashar maka sekalian menunggu adzan Maghrib yang tinggal sekitar 2 jam lagi.
Adzan Maghrib jam 18.30, kita langsung ifthor dan sholat Maghrib. Di sinilah mulai dilema pertama.
Jika kita ingin makan berat maka tentu saja kita harus keluar masjid. Kita menganggap masih banyak waktu karena Isya jam 20.30. Tapi di sinilah jebakannya. Begitu kita keluar cari makan dan selesai makan katakanlah jam 19.30 maka kita langsung terkurung di luar. Biasanya orang itu terkurung di dalam tapi di Masjidil Haram kita bisa terkurung di luar.
Jangankan masuk ke masjid dan kembali ke tap tempat kita, bahkan tempat di pelataran sajapun tidak akan didapatkan lagi karena semua sudah dibarikade. Kalau masih beruntung maka ada tempat di trotoar dan emperan toko. Tapi itupun kalau beruntung karena di sana sudah penuh orang juga. Artinya Isya dan Tarawih di masjidpun melayang.
Lalu bagaimana lagi? Mau tidak mau kita terpaksa bertahan di tempat jika masih ingin dapat Isya dan Tarawih. Harus tahan sampai tarawih selesai jam 22.30an. Setelah itu barulah bisa cari makan keluar.
Tapi cari makan keluar juga berisiko tinggi. Sama seperti dilema Maghrib tadi maka sangat mungkin kita terkurung di luar lagi. Kita tidak bisa masuk lagi untuk sholat Tahajud karena semua akses kembali dibarikade.
Yang aman adalah tidak keluar sama sekali sampai selesai Subuh. Tapi ini juga dilema kelas berat. Lapar mungkin bisa ditangkal dengan kurma dan roti. Haus bisa diatasi dengan air zam zam yang berlimpah. Tapi kebelet buang air kecil bisa ditangkal dengan apa. Bayangkan dari jam 14 sampai jam 05.30 keesokan harinya kita harus menahan BAK.
Inilah yang berat sekali. Pilihannya hanya menahan BAK atau menyerah dengan konsekuensi tidak bisa ikut sholat Tahajud dan Subuh di dalam masjid.
Ada orang yang mengambil pilihan pertama. Dia minum sesedikit mungkin. Buka dan sahur seadanya dengan kurma. Dengan demikian dia bisa menahan BAK sampai Subuh dan sukses bertahan di dalam masjid jam 14 sampai 05.30 keesokan harinya tanpa ke mana-mana sama sekali.
Bersambung